Kisah Paksi Erlangga, sosok sederhana di balik Erlangga Highfield School
Sebagai
anak dari seorang tentara, tentu Paksi kecil dididik
dengan sangat disiplin. Paksi terlahir dari pasangan Sigit Triyono dan Yatin.
Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Didikan disiplin memang sangat
kental dalam keluarga Triyono. “Ayah saya disiplin sekali dalam mendidik anak,”
kenang Paksi. Paksi lahir di kota Ponorogo pada 8 Maret 1960. Ketika Paksi masih
berumur setahun, ia kemudian pindah ke kota Bandung karena mengikuti kepindahan
tugas dari sang ayah. Hanya sekitar lima tahun, ia bersama keluarga tinggal di
kota kembang tersebut. Pada usianya yang baru menginjak enam tahun, Paksi pun
harus kembali berpindah tempat, karena sang ayah ditugaskan di ibukota Jakarta.
Tak heran, ia mulai merasakan bangku pendidikan di kota yang dulunya bernama
Batavia tersebut.
Paksi kecil
bersekolah di SDN Arjo Mulya 3 yang dulunya berlokasi di Jalan Merdeka Timur,
Jakarta Pusat. “Mungkin sekarang sudah nggak ada sekolahannya,” ujar Paksi. Selepas
itu, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Alexandria, Lapangan Banteng, Jakarta. Pada usia
remaja, Paksi mengaku sempat memiliki cita-cita sebagai seorang guru. Namun
demikian, cita-citanya tersebut berganti-ganti saat ia melihat profesi-profesi
lainnya yang lebih menarik. “Saya pernah ingin menjadi Tentara, dan Pilot,”
ungkapnya singkat.
Paksi juga
mengalami masa-masa indah pada usia remajanya di SMAN 1 Jakarta. Setelah
menamatkan pendidikan sekolahnya, Paksi pun memutuskan untuk mengambil mata
kuliah Sastra Inggris di Universitas Indonesia (UI). Meski mengambil kuliah
Sastra Inggris, cita-cita menjadi seorang guru tak pernah terhapus dari
ingatannya. Semasa kuliah, Paksi dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang
aktif di organisasi. Tak heran, ia sempat menjadi Ketua Senat UI sebelum
akhirnya organisasi Senat dibubarkan pada saat pemerintahan Soeharto.
Setelah
lulus dari Sastra Inggris UI, Paksi menjalani dua profesi sekaligus. “Saya
menjadi asisten dosen di UI dan bekerja di LBH Jakarta,” ujar Paksi. Menjadi
asisten dosen UI dilakoninya selama 2 tahun, sedangkan aktif di LBH Jakarta bagian Non Litigasi,
dijalaninya selama 4 tahun. Di saat yang sama pula, ia kerap menjadi penulis
tamu di salah satu rubrik Tabloid Mutiara. Selain itu, salah satu sahabatnya,
yakni Arif Fauzinurf mengajaknya untuk ikut terlibat di sebuah majalah khusus
mengenai pendidikan anak. “Secara tidak sengaja, saya lambat laun berkecimpung
di dunia pendidikan,” ungkap ayah tampan ini.
Keterlibatan
di dunia pendidikan semakin terasa ketika sahabatnya, Arif Fauzinurf
mengajaknya untuk membuat persiapan dalam rangka pendirian sebuah sekolah.
Tanpa berpikir panjang, Paksi lantas menerima ajakan tersebut. Alhasil, ia pun
menjadi salah satu pendiri dan pembuat kurikulum sekolah yang diberi nama Erlangga
tersebut. “Saya tertarik dengan dunia pendidikan, karena proses pengajarannya
kepada anak-anak siswa,” tutur penyuka olahraga lari ini.
Bersama
rekan-rekannya di sebuah tim, Paksi membuat konsep pengajaran dan pendidikan
sekolah Erlangga Highfield School. Salah satu dasar yang ditanamkannya di
sekolah yang terletak di Erlangga Highfield School adalah memberikan kesempatan
berekspresi bagi seluruh siswa. Dengan begitu, diakuinya, siswa dapat menemukan
potensi dalam diri yang paling menonjol dan pada akhirnya akan berguna di masa
depan. “Nilai di sekolah itu bukan segala-galanya,”
ungkap Paksi singkat. Menurutnya pula, guru seharusnya berperan membantu para
siswanya menemukan potensi dalam diri masing-masing siswa.
Setelah
dua tahun bekerja, akhirnya sekolah Erlangga Highfield School mampu beroperasi
pada tahun 1987. Kini, Erlangga Highfield School sendiri berkembang cukup
pesat. Hal tersebut tak lain berkat tangan dingin Paksi yang menanamkan konsep
serta kurikulum pendidikan yang diterapkan. Meski termasuk dalam salah satu
pembuat kurikulumnya, Paksi mengaku tidak terus menerus aktif di sekolah
tersebut. Ia berpendapat bahwa proses kaderisasi merupakan proses yang sangat
penting. Tak pelak, walaupun kini ia masih menjabat sebagai staf ahli Erlangga
Highfield School Paksi justru lebih
banyak memberikan kepercayaan bagi generasi muda untuk melanjutkan proses
pengajaran di Erlangga Highfield School.
Tidak ada komentar